Monday, January 6, 2014

Lima Persiapan Menjadi Investor Reksadana Tahun 2014 (By: Rudiyanto - Head of Operation and Business Development PT. Panin Asset Management)


Berikut ini adalah 5 hal yang harus dicermati oleh investor agar siap menjadi investor reksa dana pada tahun 2014:


1. Tapering Off oleh The Fed

Kebijakan pengurangan stimulus secara bertahap memang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan penurunan bursa pada tahun 2013. Sebelum kebijakan ini diumumkan asing secara bertahap menarik portofolio investasinya di Negara berkembang termasuk di Indonesia.


Per tahun 2013, data menunjukkan posisi net buy sell sudah – 25 triliun lebih. Artinya jumlah investasi yang ditarik bukan hanya dana yang masuk pada tahun ini saja, tapi juga dana yang ditarik pada investasi tahun-tahun sebelumnya.


Apakah hal ini berarti investor sudah mengantisipasi tapering yang lebih besar? Bisa jadi, sebagai informasi sejak isu digulirkan, pasar memprediksikan pengurangan sebesar 10 – 20 Milliar USD. Pada saat diumumkan baru dilakukan sebesar 10 Milliar USD. Dengan demikian, kondisi IHSG sekarang bisa dikatakan sudah mencerminkan kondisi tapering dalam skala yang lebih besar.


Rasa-rasanya tidak mungkin juga asing menarik “seluruh” investasi dari Indonesia mengingat tidak semua investasi dilakukan menggunakan dana stimulus, dan Indonesia sendiri masih merupakan tujuan investasi yang menarik dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang termasuk tinggi dibandingkan Negara lain.


Pengurangan stimulus (tapering) ini bisa dilihat dari 2 sisi, pertama berkurangnya dana untuk investasi bursa. Di sisi lain, terjadi pemulihan di Amerika Serikat sebagai ekonomi terbesar di dunia. Terjadinya pemulihan pada akhirnya akan merangsang konsumsi dan permintaan ekspor dari Negara berkembang seperti Indonesia.


2. Pajak Obligasi Pada Reksa Dana

Di luar hal yang bersifat makro ekonomi, permasalahan pajak pada reksa dana juga menjadi perhatian sebagian besar investor. Dalam peraturan pemerintah no 16 tahun 2009, disebutkan bahwa atas penghasilan berupa bunga (kupon) dan atau diskonto obligasi yang diterima oleh reksa dana dikenakan pajak penghasilan 0% dari tahun 2009 – 2010, kemudian 5% untuk tahun 2011 – 2013 dan baru 15% (normal) pada tahun 2014 dan seterusnya.

Pemerintah dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memang berkomitmen untuk memperjuangkan keringanan pajak reksa dana dengan tetap memberlakukan besaran pajak sebesar 5% hingga 2020, namun hingga artikel ini ditulis, belum ada peraturan resmi terkait hal tersebut. Mudah-mudahan pada saat artikel ini dipublikasikan, hal tersebut sudah terealisasi.


Namun yang saya cermati, ada sebagian investor yang salah dalam menerjemahkan peraturan perpajakan ini. Sebagian malah mengira reksa dana yang sebelumnya bukan objek pajak, malah akan dikenakan pajak pada tahun 2014.

Perlu diluruskan bahwa yang dibahas dalam peraturan ini adalah hasil investasi reksa dana di obligasi. Artinya sebagai orang-perseorangan, ketika berinvestasi di obligasi, atas penghasilan kupon dikenakan pajak 15%. Namun jika peraturan tersebut berhasil diwujudkan, maka jika reksa dana membeli obligasi, penghasilan kupon yang diterima hanya dikenakan pajak 5%. Hal ini akan membuat reksa dana lebih menarik karena mampu menghasilkan imbal hasil yang lebih tinggi.


3. Kondisi Inflasi dan Suku Bunga

Ada 2 hal yang menyebabkan kenaikan suku bunga pada tahun 2013. Pertama, imbas kenaikan harga BBM dan kenaikan beberapa harga barang kebutuhan hidup pada tahun lalu seperti harga daging sapi, kedelai dan cabe. Kedua, kondisi defisit neraca perdagangan membuat pemerintah ingin memperlambat laju pertumbuhan ekonomi dengan harapan dapat menekan laju impor.


Secara historis dan teoritis, kenaikan suku bunga berefek negatif terhadap pasar saham dan obligasi dan sebaliknya ketika kondisi suku bunga turun, efeknya sangat positif. Oleh karena itu, apakah tahun 2014 suku bunga bisa turun atau tidak.


Mengacu ke pengalaman sebelumnya, efek inflasi akan mereda 1 tahun setelah terjadi kenaikan BBM. Dengan demikian, diperkirakan pada bulan Juli atau Agustus tahun depan, inflasi bisa menurun sehingga suku bunga berpeluang turun.


Sementara untuk kondisi Current Account Defisit (CAD), meski belum bisa pulih dengan cepat, namun kondisi terburuk sudah lewat. Diperkirakan permintaan ekspor bisa meningkat pada tahun depan karena pelemahan Rupiah dan Negara importir besar seperti Amerika dan Uni Eropa juga akan memasuki masa pemulihan.


4. PEMILU dan Pilpres 2014

Meski PEMILU dan Pilpres menjadi kekhawatiran, saya malah menemukan suatu statistik yang menarik tentang kinerja IHSG di tahun Pemilihan Umum. Pada tahun PEMILU tahun 1999, IHSG naik 70.06%. Kemudian pada tahun 2004 yang menganut PEMILU dan Pilpres, IHSG kembali naik 44.56%. Tahun 2009 juga menjadi tahun yang gemilang untuk bursa karena naik 86.98%.


Dalam 3 periode PEMILU yang terakhir yang juga dilingkupi dengan ketidakpastian, ternyata IHSG mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Saya menduga, hal ini disebabkan karena kekhawatiran yang berlebihan, investor memilih wait and see.


Setelah pemenangnya sudah bisa dipastikan, investor mendapatkan kepastian sehingga bisa menjalankan kegiatan investasinya. Hal ini yang menurut saya membuat kenaikan IHSG cukup tinggi di tahun PEMILU. Meski demikian, perlu diingat bahwa kinerja masa lalu tidak menjadi acuan akan kembali terulang di masa mendatang.


5. Valuasi dan Kinerja Emiten

Sebagai investor yang berbasis value investing, faktor valuasi merupakan hal yang penting. Untuk kinerja emiten 2014, diperkirakan tidak akan lebih baik dibandingkan dengan kinerja pada tahun 2014 karena kebijakan perlambatan ekonomi yang diambil oleh pemerintah.

Tingkat kenaikan laba bersih perusahaan yang berkisar antara 15% – 20% per tahun mungkin akan turun menjadi sekitar 12% – 15% pada tahun depan. Namun di satu sisi, pergerakan IHSG sudah stagnan selama 2013.


Dengan asumsi kinerja IHSG akan mencerminkan kenaikan laba bersih perusahaan yang terkandung di dalamnya, maka logikanya IHSG akan menyesuaikan kenaikan laba bersih 15% – 20% di tahun 2013 dan kenaikan 12% – 15% di tahun 2014. Berdasarkan asumsi tersebut, saya cukup optimistis kenaikan IHSG bisa naik minimal 20% pada tahun kuda ini. Untuk obligasi, apabila terjadi penurunan tingkat suku bunga, potensi kenaikan juga bisa di atas 10%.


2014 in Summary


Demikian artikel ini semoga bermanfaat bagi anda untuk lebih siap dalam menjadi investor reksa dana di tahun 2014 ini.
Sumber: http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2014/01/02/5-persiapan-menjadi-investor-reksa-dana-2014/#more-4014

Wednesday, April 24, 2013

Attitude

The longer I live, the more I realized
Will influence attitudes in the life

Attitude is more important than knowledge, rather than money, than an opportunity, rather than failures, than successes, than whatever may be said or done somebody.

Attitude is more important
than appearance, gift, or skill.
The most amazing thing is we have the option to generate the attitude we have on that day.

We can not change the past
We can not change people's behavior
We can not change what would happen

One thing we can change
is one thing we can control, and that is our attitude.

I am increasingly convinced that life is
10 percent of what is actually happening to us, and 90 percent is how we deal with it attitude.

Finally: All the choice lies in your hands, there is no IF or BUT. You're the driver. You decide ... YOUR WAY OF LIFE!

Tuesday, April 16, 2013

Reksadana Indeks Versus ETF

ETF (Exchange-Traded Fund) merupakan wahana investasi yang relatif baru di negeri kita ini. Produk ETF yang ada saat ini ada dua, yaitu ABF IBI Fund dan Premier ETF LQ-45. ABF IBI Fund menggunakan portfolio indeks obligasi sebagai patokan sedangkan Premier ETF LQ-45 menggunakan indeks LQ-45 sebagai indeks patokan. 

Sebelum ETF muncul, kita telah terlebih dahulu mengenal reksa dana indeks, yaitu Danareksa Indeks Syariah. Reksa dana ini menggunakan indeks JII (Jakarta Islamic Index) sebagai acuan. Baik ETF maupun reksa dana indeks berusaha menirukan kinerja dari indeks acuannya. Lalu apa perbedaan keduanya?

 Reksa Dana Indeks 
Reksa dana indeks adalah reksa dana yang portfolionya terdiri atas saham-saham penyusun indeks tertentu. Proporsi kepemilikan saham oleh reksa dana indeks sebisa mungkin disamakan dengan komposisi indeks acuan tersebut sehingga diharapkan kinerjanya akan menyamai kinerja indeks acuan. 

Proses pembentukan reksa dana indeks sama dengan reksa dana pada umumnya. Mari kita perhatikan gambar berikut:




Manajer investasi akan membeli saham-saham di pasar sampai dengan komposisinya menyamai indeks. Tentu saja dalam perjalanannya nanti akan terjadi sedikit perbedaan kinerja dengan indeks acuan. Perbedaan ini disebut dengan tracking error. Setiap beberapa bulan sekali, manajer investasi akan menata ulang portfolionya untuk meminimalisasi tracking error ini. Manajer investasi kemudian menjual membeli unit penyertaan kepada para investor. 

Pembelian reksa dana indeks sama dengan reksa dana pada umumnya. Kita dapat membelinya di agen penjual reksa dana atau langsung ke manajer investasinya. Begitu juga jika kita ingin menjual unit reksa dana kita. NAB reksa dana indeks dapat kita lihat setelah berakhirnya sesi perdagangan harian. 

Karena reksa dana indeks memerlukan pengawasan yang relatif sedikit, maka management fee untuk MI biasanya cukup rendah. Untuk Danareksa Indeks Syariah, management fee tahunan maksimal 0.3% dari NAB. Biaya ini jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya pengelolaan reksa dana saham biasa yang bisa mencapai 2.5% per tahun. 

 ETF 
Pada tulisan ini, saya hanya akan membahas mengenai ETF saham karena memiliki underlying portfolio yang saham dengan reksa dana indeks yaitu saham. 

Hampir sama dengan reksa dana indeks, ETF berusaha untuk mereplikasi indeks tertentu agar kinerjanya sama dengan indeks acuan tersebut. Pembentukan ETF berbeda dengan reksa dana indeks. Mari kita perhatikan gambar berikut: 



Dealer partisipan akan membeli saham-saham di pasar dengan komposisi yang saham dengan indeks acuan sampai dengan jumlah tertentu. Saham-saham yang telah dibeli ini kemudian ditukarkan dengan unit kreasi yang dibuat oleh manajer investasi ETF. Setelah memiliki unit kreasi yang dimiliki oleh dealer partisipan dapat disimpan sendiri atau dijual ke pasar setelah dipecah-pecah dalam bentuk unit penyertaan. Satuan penjualan di pasar adalah lot (500 unit penyertaan). 

Jadi, perbedaan pertama antara ETF dengan reksa dana indeks adalah bagaimana cara pembentukannya. Pada ETF, yang berhak untuk bertransaksi dengan manajer investasi hanyalah dealer partisipan yang sering disebut juga dengan market maker. 

Sama halnya dengan reksa dana indeks, pengelolaan ETF juga bersifat pasif sehingga management fee nya pun relatif rendah jika dibandingkan dengan reksa dana saham pada umumnya. 

Perbedaan kedua adalah pihak yang menjual dan membeli unit penyertaan. Investor ETF hanya dapat membeli dan menjual unit penyertaan dari investor lain melalui pasar sekunder. Proses transaksinya sama persis dengan transaksi saham. Jadi saat membeli atau menjual unit penyertaan, kita tidak dikenai subscribe atau redeem fee melainkan komisi broker yang jumlanya bervariasi antara 0.2%-0.3% untuk pembelian dan 0.3%-0.4% untuk penjualan. Kesimpulannya untuk dapat berinvestasi di ETF, kita harus terdaftar sebagai nasabah suatu sekuritas. 

Perbedaan ketiga adalah penetapan harga unit penyertaan. Jika pada reksa dana indeks, NAV nya ditentukan berdasarkan nilai wajar dari aset yang dimilikinya, maka pada ETF, harganya tidak harus sama dengan NAV nya. Di samping itu, harga ETF akan diupdate secara kontinyu selama perdagangan di pasar berlangsung. Hal ini berbeda dengan reksa dana indeks di mana NAV nya hanya dapat kita ketahui 1 kali setiap harinya yaitu saat perdagangan di pasar telah berakhir. Harga unit penyertaan ETF ditentukan oleh transaksi antar investor di pasar. 

Perbedaan keempat adalah periode settlement. Jika kita ingin membeli reksa dana indeks, kita harus menyediakan dananya terlebih dahulu. Jika kita membeli ETF, kita tidak harus memiliki dananya saat itu juga, akan tetapi diberi waktu hingga 3 hari setelah transaksi (T+3). Adanya perbedaan ini disebabkan karena ETF diperlakukan sama dengan saham yang memiliki periode settlement 3 hari. 
Walaupun terdapat beberapa perbedaan, ETF dan reksa dana indeks memiliki persamaan: 
  
  • Portfolionya mengacu pada suatu indeks tertentu 
  • Biaya pengelolaan yang relatif rendah 

Lalu mana yang kita pilih?Jika kita adalah investor pasif, maka baik ETF maupun reksa dana indeks sama saja. Namun jika kita adalah investor aktif, maka ETF merupakan pilihan yang lebih baik karena dapat diperdagangkan secara real-time tanpa harus menunggu berakhirnya sesi perdagangan. Baik ETF maupun reksa dana menawarkan satu keunggulan yaitu memiliki kinerja yang menyamai indeks acuan dengan biaya pengelolaan rendah. 

Namun ada hal lain yang harus kita perhatikan. Saat ini volume perdagangan ETF sangat rendah sehingga mengakibatkan lebarnya spread (perbedaan) antara harga bid dan offer di pasar. FYI, ’bid’ adalah harga yang kita dapatkan jika ingin menjual ETF saat itu juga sedangkan ’offer’ adalah harga yang kita dapatkan jika kita ingin membeli ETF saat itu juga. 

Selain itu, karena tidak ada keharusan bahwa harga unit penyertaan ETF sama dengan NAV nya, maka terkadang terdapat perbedaan yang cukup besar antara harga dengan NAV nya. Jika kita jeli, maka kita dapat memanfaatkannya dengan membeli ETF jika harganya di bawah NAB dan menjualnya jika harganya lebih tinggi dari NAV nya. FYI, NAV ETF seharusnya sama dengan nilai indeks acuannya. 

Hal yang serupa dapat pula dilakukan oleh dealer partisipan untuk menambah keuntungan. Saat harga ETF lebih tinggi daripada indeks acuan, maka dealer partisipan akan membeli saham-saham penyusun portfolio ETF di pasar dan kemudian menjual unit kreasi yang dimilikinya kepada manajer investasi ETF. Demikian pula jika harga ETF lebih rendah daripada indeks acuannya, maka dealer partisipan dapat menjual saham-saham penyusun portfolio ETF dan menggunakan dana yang didapat untuk membeli unit kreasi dari manajer investasi ETF. Tindakan ini disebut dengan arbitrage. 

Demikian sedikit paparan mengenai ETF dan reksa dana indeks. Selamat berinvestasi!

Source : www.parahita.wordpress.com

Saturday, March 2, 2013

Kolaborasi

Dahulu setiap pebisnis berusaha mencari lokasi yang jauh dari kompetitor. Namun, sekarang para pebisnis yang ada dalam satu industri berlomba untuk berkumpul bersama di sebuah sentra usaha. Maka sekarang kita lihat seperti sentra bisnis dengan produk atau jasa spesifik dan sejenis, ada sentra bisnis produk elektronik, pusat perdagangan tektil, sentra kuliner, bahkan sudah mulai ada sentra jasa lawyer yang berdampingan bersama-sama.

Orang tak takut lagi bersaing dengan tetangga, justru hidup berdampingan secara sehat. Dengan kata lain, orang tak sibuk lagi berkompetisi, tetapi dengan senang hati ingin berkolaborasi. Para pelaku bisnis tahu persis bahwa pasar terlalu kecil untuk diperebutkan satu sama lain, namun justru terlalu luas dan terbuka lebar untuk dikembangkan bersama-sama.

Ketika ekonomi dunia sedang mengalami turbulensi maha dashyat, tak satu negara pun sanggup menyelesaikannya sendiri. Termasuk negara adidaya seperti USA sekali pun sepakat bahwa semua negara harus bergandengan tangan mengatasi persoalan ini. Tiap individu, korporasi, dan juga pemerintah harus keluar dari semangat ultrakompetisi yang saling membunuh satu sama lain. Sebaliknya, hanya kolaborasilah yang mampu menciptakan inovasi terobosan untuk menyelesaikan pe rsoalan multidimensi.

Khususnya bagi dunia usaha, semangat kolaborasi bukan sekadar sebuah pilihan, melainkan sudah menjadi keniscayaan. Jika ingin tetap eksis, sebuah perusahaan harus membangun jejaring yang terbuka dengan pesaing, pelanggan, pemerintah, asosiasi pengusaha, komunitas  akademisi, serta mitra bisnis mereka.

Model inovasi tertutup yang ditempuh oleh sebuah organisasi tunggal adalah pendekatan masa lampau. Inovasi terbuka lewat kolaborasi antar institusi akan menjadi daya saing baru. Masalahnya, bagaimanakah bentuk kolaborasi yang cocok bagi perusahaan kita?

Pakar manajemen inovasi, Gary P. Pisano dan Roberto Vergantti, dalam tulisan Which Kind of Collaboration is Right for You? (HBR, Desember 2008), memperkenalkan empat model kolaborasi.

Elite Circle
Sebuah perusahaan memilih sekelompok orang tertentu yang diminta merumuskan masalah sekaligus juga mengajukan usulan pemecahannya.

Innovation Mall
Wahana bagi sebuah perusahaan untuk menempatkan masalahnya dan mengundang orang untuk mengusulkan pencerahan.  Setelah itu, perusahaan akan memilih solusi terbaik diantara ususlan yang ada. Salah satu contoh wahana ini dapat berupa website yang berfungsi menempatkan berbagai problem. Setiap orang bebas masuk ke website untuk memberikan komentar dan alternatif solusi atas problem yang diposting tersebut.

Innovation Community
Cara ini memungkinkan setiap orang mengajukan masalah apa pun, sekaligus menawarkan solusi apa pun. Secara kolektif mereka memutuskan solusi yang akan digunakan bersama. Contoh populer model ini adalah komunitas peranti lunak linux open source.

Consortium
Memilih beberapa perusahaaan mitra secara selektif untuk merumuskan masalah, menentukan mekanisme kerja, serta memutuskan solusi yang akan ditempuh. IBM memakai pendekatan ini dengan memilih beberapa perusahaan mitra untuk mengembangkan teknologi semikonduktor.

Setiap pemimpin harus memiliki pengertian tentang strategi perusahaan secara keseluruhan, sebelum memilih model kolaborasi yang akan ditempuh. Demikian juga setiap perusahaan harus mampu menawarkan sesuatu yang unik bagi proses kolaborasi tersebut, agar mampu terlibat secara aktif  sebagai pelaku.

Namun, apa pun model kolaborasi yang dipilih, saatnya dunia usaha sepakat membangun sinergi kolaborasi dalam memburu inovasi. Sudah bukan jamannya lagi perusahaan menutup diri dan sibuk menggarap inovasi seorang diri.

Source:  Ekuslie Goestiandi, Kontan, 23 Februari 2009

Thursday, February 7, 2013

Belajar dari 'LEM'

Lem......ya lem atau perekat.....sesuatu yang sangat berkaitan dengan keseharian kita.....bahkan sangat penting.....hanya saja kita hampir-hampur tak sadar akan kegunaan kehadirannya...kecualiiii.....tentu saja saat kita membutuhkannya, kesannya pragmatis banget, ya! Tapi memang lem diciptakan sbg alat untuk membantu umat manusia dalam berkembang, sekarang bayangkan jika kita tak punya lem, bisa jadi tak ada surat rahasia, bisa jadi tak ada yang namanya sakuran air rumah tangga, bisa jadi tidak ada banyak mainan kecil seperti yang ada saat ini......sifatnya yang dirancang untuk bisa menyatukan serpihan-serpihan kecil sekalipun menjadi berdampak besar untuk keoraktisan hidup sehari-hari kita. Sifat dia yang likuid, merekatkan dan tak nampak secara kasat mata.........sungguh mencerminkan sesuatu yang tak nampak, seringkali tak drasakan kehadirannya namun berdampak pada kehidupan kita, merupakan sifat-sifat yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan kita dalam berorganisasi dan berteman. 

Belajar dari lem: 
- Dalam berorganisasi: 
1. Berwawasan kerjasama yang erat ketimbang bersaing tidak sehat 
2. Berkecenderungan kolaborasi 
3. Luwes dan lugas dalam satu unit atau antar unit kerja 
4. Mementingkan tujuan bersama ketimbang menonjolkan diri sendiri 
5. Bersifat mempersatukan daripada memecahbelah 

- Dalam berteman: 
1. Berkecenderungan mendahulukn teman daripada kepuasan diri semata 
2. Lebih ikhlas dalam berinteraksi 
3. Mementingkan hububgan jangka panjang dan berusaha menjaga persahabatan yang ada 
4. Cenderung menjaga suasana damai dan ketentraman bersama ketimbang memihak salah. satu pihak 
5. Kehadirannya dapat menjafi pemersatu kelompok 
Lem..... ya lem..... 

Shared with Memoires for Android http://market.android.com/details?id=net.nakvic.dromoris http://sites.google.com/site/drodiary/

Friday, February 1, 2013

Kompleksitas Kesuksesan dan Kebahagiaan

Anda seorang orang tua yang ingin dicintai anak-anak Anda. Karena itu, Anda meminta mereka untuk mencintai Anda. Mereka justru semakin menjauh.


Anda seorang yang sedang mencari cinta sejati. Karena itu, Anda menghabiskan waktu untuk perawatan kecantikan, berusaha menampilkan diri Anda yang terbaik dan sebisa mungkin menutupi kekurangan Anda. Anda ingin menunjukkan bahwa Anda lebih istimewa dibanding kandidat lainnya. Cinta sejati justru tidak pernah datang.

Anda seorang pemilik usaha yang ingin mencapai sukses setinggi-tingginya. Anda berusaha mencari segala cara untuk menurunkan biaya dan menaikkan harga. Dalam jangka pendek, cara tersebut kelihatan berhasil, namun perlahan-lahan pelanggan mulai meninggalkan produk-produk Anda.


Anda seorang pencari kebahagiaan. Anda berusaha menciptakan lingkungan yang bisa memberi Anda kesenangan terus menerus. Anda justru merasa bosan dan hampa.


Sementara itu, Anda melihat orang-orang yang kelihatannya tidak berupaya sekeras Anda justru berhasil menggapai apa yang Anda idam-idamkan.


Bila Anda (atau orang-orang yang Anda kenal) pernah mengalaminya, menurut John Kay, seorang ekonom terkemuka Inggris, hal itu adalah hasil dari prinsip obliquity. Kay berpendapat, hal-hal penting yang melibatkan partisipasi orang lain — seperti kekayaan berlimpah, cinta kasih, kebahagiaan — dan yang melibatkan sistem yang kompleks seperti kelestarian lingkungan hidup, lebih baik dicapai dengan cara-cara tidak langsung. Pencapaian yang dilakukan secara langsung, walau mungkin bisa memberikan sukses sesaat, namun dalam jangka panjang bisa menjadi bumerang.


Sepintas pendapat tersebut kedengaran kurang masuk akal. Bukankah orang-orang yang berusaha kaya akan berusaha lebih keras dibanding orang yang tidak melakukan apa-apa? Bukankah kerja keras sangat dihargai? Bukankah orang yang secara spesifik mencari pasangan hidup akan memiliki probabilitas lebih tinggi untuk mendapatkan pendamping hidup?


Menurut Kay, dalam batas-batas tersebut, jawabannya adalah “YA”. Orang-orang yang berusaha untuk kaya secara rata-rata pasti lebih kaya dari yang tidak berusaha. Dan demikian juga untuk hal-hal lainnya. Namun, bila Anda ingin benar-benar kaya, benar-benar sukses, benar-benar bahagia, Anda dianjurkan untuk tidak mengejar tujuan tersebut secara langsung. Tentu saja Anda tetap harus bekerja keras, namun kerja keras tersebut dilakukan demi alasan lain.


Lihat saja daftar orang-orang kaya versi Forbes atau Fortune. Bill Gates, yang selalu menempati ranking orang terkaya di dunia selama beberapa tahun terakhir, tidaklah menghabiskan waktu untuk menghitung penghasilannya setelah mendirikan Microsoft. Apa yang ada di pikirannya adalah membuat sistem operasi dan perangkat lunak komputer yang lebih baik dan mengejar mimpinya untuk melihat setiap orang memiliki satu komputer. Demikian juga partnernya, Paul Allen. Setelah menjadi super milyuner, kedua orang ini tetap tidak mendewakan uang. Gates dan Allen adalah penyumbang aktif untuk organisasi-organisasi sosial. Kegiatan-kegiatan filantropis Gates dan Allen benar-benar tulus dan keluar dari lubuk hati terdalam mereka, bukan sekedar untuk membangun public image yang bagus. Pierre Omidyar dan Jeff Skoll, mendirikan eBay bukan karena berharap menjadi milyuner suatu saat nanti. Mereka melakukannya karena percaya pada kekuatan pasar bebas yang direplikasi di dunia maya. Baik Omidyar atau pun Skoll sekarang lebih aktif dalam dunia filantropis dibanding mengurusi eBay.


Dan orang kedua terkaya di dunia? Warren Buffett, sang investor nomor satu di Amerika Serikat. Buffet sampai saat ini masih tinggal di rumahnya di Omaha yang sudah ditempati 50 tahun. Mobilnya juga masih mobil lama meski kekayaannya hanya bisa diimbangi oleh Gates. Buffett sendiri mengaku dia tidak tertarik dengan uangnya, tapi proses penciptaan nilai lewat perusahaan-perusahaan yang dibelinya. Sekitar 90% kekayaan pribadi Buffett disumbangkan untuk tujuan amal.


Berbeda dengan pandangan umum, orang-orang yang super kaya tidak memikirkan uang, uang, dan uang. Bagi mereka, uang justru merupakan hasil sampingan dari pengejaran mimpi mereka dengan gairah dan kepercayaan. (Untuk para wirausaha, kejarlah mimpi Anda, bukan uang.)


Dan siapa yang lebih berbahagia dan sukses menurut Anda: Bunda Theresa atau Michael Jackson? Dalai Lama atau Suharto? Negara paling bahagia sedunia? US? Prancis? Jepang? Australia? Italia? Bukan.. bukan.. Menurut World Values Surveys (WVS) yang dilakukan oleh University of Michigan, peringkat negara-negara paling bahagia tidak berkorelasi langsung dengan rata-rata pendapatan perkapita penduduknya. Memang di peringkat atas terdapat negara-negara kaya seperti Denmark dan Finlandia, tetapi negara-negara berkembang seperti Nigeria, Meksiko, Venezuela, El Salvador, dan Puerto Rico juga sering menempati posisi atas. Indonesia? Kita menduduki papan tengah dan masih lebih baik dari beberapa negara maju lainnya seperti Italia, Jepang, dan Korea Selatan. Yang menarik dari ranking ini adalah: negara-negara yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, tidak terlibat konflik bersenjata, dan tidak terlalu materialistis adalah negara-negara paling bahagia di dunia. Negara-negara maju yang aman dan memiliki tunjangan sosial yang baik (seperti Denmark dan Finlandia) juga memiliki peringkat yang tinggi. Sementara negara-negara maju yang menunjukkan kompetisi yang tinggi atau hedonis seperti Jepang tidak memiliki ranking yang terlalu baik. Paling parah adalah negara-negara yang masih dilanda konflik bersenjata di dalam negeri atau dengan negara lain seperti Irak atau Zimbabwe.


Prinsip obliquity ini masuk akal karena kita hidup di dunia yang digerakkan oleh sistem yang kebanyakan komponennya di luar kendali kita. Logika sederhana “Bila A lalu B” tidak laku di sini. Yang terjadi umumnya adalah: “Bila A, lalu B dan C; B mempengaruh C dan D; D mempengaruhi A, dst…” Belum lagi bila kita berhadapan dengan sesama manusia yang tingkah lakunya sukar diprediksi. Karena itu, pengejaran tujuan yang bersifat langsung kadang sulit diprediksi keberhasilannya.


Lalu apa yang harus dilakukan untuk mencapai hal-hal penting tersebut?


Kita jelas tidak bisa menemukan jawaban lengkap. John Kay juga tidak berani menawarkan jawaban. Tapi, hal-hal yang diajarkan oleh agama dan orang-orang bijak sejak ribuan tahun lalu mungkin bisa dijadikan titik awal (paling tidak, bila ajaran tersebut mampu bertahan ribuan tahun, pasti ada alasannya). Berdoa dan percaya pada Tuhan. Kenali dan jadilah diri sendiri. Bersikap jujur. Berilah sebelum meminta. Berilah cinta tanya syarat. Kerja keras. Tekun. Temukan tujuan hidupmu dan jalankan. Tidak mudah memang, tapi bisa jadi itu juga alasan mengapa sedikit dari kita yang bisa benar-benar mencapai hal-hal penting tersebut.

Friday, January 4, 2013

Kompleksitas Dan Kecerdasan (Sebuah Perenungan)


Dalam buku In Search of Excellence (Tom Peters & R.H. Waterman), ada secuil cerita menarik yang mereka dengar dari Gordon Siu. Siu menceritakan tentang eksperimen di mana beberapa ekor lebah dan beberapa ekor lalat ditempatkan di dalam sebuah botol. Botol tersebut lalu diletakkan horisontal (memanjang) dengan bagian pantatnya yang tertutup dihadapkan ke jendela yang terkena sinar matahari, sementara bagian leher botol yang terbuka membelakangi jendela.
Lebah-lebah, yang terkenal sebagai salah satu serangga tercerdas, mati-matian berusaha keluar dari botol dengan terbang menuju ke arah cahaya (jendela). Karena cerdas, mereka berusaha mencari jalur terdekat untuk pulang ke rumah. Karena itu, mereka bertekad terbang menuju ke arah jendela apa pun resikonya. Namun karena arah tersebut tertutup bagian belakang botol, usaha mereka berakhir tragis. Para lebah akan mencoba terus sampai mati kecapaian.
Sementara lalat, yang terkenal sebagai serangga bodoh dengan otak secuil, terbang kesana kemari tanpa tujuan yang jelas. Walau demikian, perlahan-lahan tapi pasti, satu per satu dari mereka berhasil menemukan jalan keluar melalui leher botol.
Apa artinya hasil eksperimen tersebut buat kita?
Kecerdasan dan ketekunan belaka ternyata bukanlah modal utama buat sukses, terutama bila kondisi berubah drastis. Tujuan kita boleh tetap, tetapi kita terkadang harus mengambil jalan memutar bila ingin sampai di tujuan. Lebah yang cerdas memang akan mencapai tujuan lebih cepat dibanding lalat bila tidak ada halangan, tetapi bila ada halangan menanti atau lingkungan berubah (terperangkap di dalam botol yang diletakkan membelakangi jendela), sikap keras kepala mereka akan berbuah bencana. Justru upaya coba-coba yang dilakukan lalat adalah strategi yang lebih tepat.
Kecerdasan dan keahlian sering juga membutakan kita dengan membuat kita melihat masalah melalui kaca mata kuda. Bila kita memegang palu, semua kelihatan seperti paku. Kita hanya bisa melihat satu arah saja tanpa mempertimbangkan kemungkinan lain, sementara untuk menghadapi perubahan, fleksibilitas lebih dibutuhkan.
Hal yang sama juga berlaku untuk penentuan strategi perusahaan dan rencana masa depan pribadi. Dalam konteks dunia yang berubah cepat ini, apakah strategi yang Anda jalankan mengikuti cara lebah yang keras kepala, atau lalat yang mencoba berbagai alternatif lain ketika menemui kegagalan?

Wednesday, January 2, 2013

The 2013 Verdict

Tahun baru......it's become an annualy habit said some people.....some people said "Hari gini masih ngerayain tahun baru!!!".......Dan kita masing-masing punya beragam cara, aktivitas utk menutup akhir tahun. Bagi saya ndak masalah kalau kita merayakan tahun baru, kedatangan suatu awal baru, hanya saja yang terpenting adalah kita sungguh mendapatkan manfaat positif dari aktivitas dalam menyambut tahun baru tersebut.
Nah, melalui perenungan akhir tahun 2012 lalu saya bertanya- tanya sendiri kenapa sich kita harus ada perayaan tahun baru?
Esensi yang saya dapatkan dari hasil perenungan tentang hal ini adalah kita butuh suatu awal yang mengesankan, kita butuh semangat yang diperlukan untuk mengisi periode satu tahun akan datang, kita terbiasa dengan kebiasaan mengawali dan mengakhiri dengan sesuatu yang mengesankan, dan di atas segalanya seperti yang Abraham Maslow katakan kebutuhan tertinggi manusia bukanlah materi belaka tapi apresiasi terhadap diri kita (Self Esteem), maksudnya untuk menghargai diri kita sendiri, menghadiahi diri sendiri untuk menjadi semangat mengisi tahun yang baru.
Jadi di sini yang terpenting apa sich makna perayaan itu sendiri bagi kita? Kalau aktivitas perayaan tahun baru semata-mata untuk menghabiskan waktu akhir tahun bersama keluarga, teman, ataupun rekan kerja dan kita sendiri hanya mendapatkan diri kitadi tanggal 1 Januari tahun baru hanya rasa kantuk berat, cape, dan lebih-lebih ada semacam perasaan kekosongan atau datar untuk menjalani tahun baru, menurut saya kita perlu instropeksi bagaimana cara kita menghabiskan waktu akhir tahun.
Betul, saya setuju bahwa periode satu tahun telah lalu dengan segala kepenatan, stress kerjaan, atau seribu alasan lainnya. Namun walaupun Abraham Maslow bilang kebutuhan tertinggi kita adalah self esteem, tentunya kita harus menempatkan arti penghargaan diri dalam arti positif. Maksudnya disini adalah ......"Kesinambungan pengembangan diri kita dalam mencapai potensi optimum kita dalam segala aspek kehidupan"..... itulah esensi dari perayaan tahun baru menurut saya yang dalam segala bentuknyaa jangan sampai hilang ketika kita menyambut tahun baru......So itulah yang saya dapatkan kemarin....Selamat mengisi dan menjalani tahun 2013 dengan segala keindahannya!!!

Friday, October 12, 2012

Infographic: Critical Thinking


Kahneman on the storm of doubts surrounding social priming research

Daniel Kahneman issued an open letter to researchers doing social priming research, which has become the subject of skepticism after some studies were found to be fabricated and others were not able to be independently replicated. His letter offers advice to scholars about how to address the situation: Find out the truth through extensive replication and announce it.
The text of the letter is below:
From: Daniel Kahneman
Sent: Wednesday, September 26, 2012 9:32 AM
Subject: A proposal to deal with questions about priming effects
Dear colleagues,
I write this letter to a collection of people who were described to me (mostly by John Bargh) as students of social priming. There were names on the list that I could not match to an email. Please pass it on to anyone else you think might be relevant.
As all of you know, of course, questions have been raised about the robustness of priming results. The storm of doubts is fed by several sources, including the recent exposure of fraudulent researchers, general concerns with replicability that affect many disciplines, multiple reported failures to replicate salient results in the priming literature, and the growing belief in the existence of a pervasive file drawer problem that undermines two methodological pillars of your field: the preference for conceptual over literal replication and the use of meta-analysis. Objective observers will point out that the problem could well be more severe in your field than in other branches of experimental psychology, because every priming study involves the invention of a new experimental situation.
For all these reasons, right or wrong, your field is now the poster child for doubts about the integrity of psychological research. Your problem is not with the few people who have actively challenged the validity of some priming results. It is with the much larger population of colleagues who in the past accepted your surprising results as facts when they were published. These people have now attached a question mark to the field, and it is your responsibility to remove it.
I am not a member of your community, and all I have personally at stake is that I recently wrote a book that emphasizes priming research as a new approach to the study of associative memory – the core of what dual-system theorists call System 1. Count me as a general believer. I also believe in a point that John Bargh made in his response to Cleeremans, that priming effects are subtle and that their design requires high-level skills. I am skeptical about replications by investigators new to priming research, who may not be attuned to the subtlety of the conditions under which priming effects are observed, or to the ease with which these effects can be undermined.
My reason for writing this letter is that I see a train wreck looming. I expect the first victims to be young people on the job market. Being associated with a controversial and suspicious field will put them at a severe disadvantage in the competition for positions. Because of the high visibility of the issue, you may already expect the coming crop of graduates to encounter problems. Another reason for writing is that I am old enough to remember two fields that went into a prolonged eclipse after similar outsider attacks on the replicability of findings: subliminal perception and dissonance reduction.
I believe that you should collectively do something about this mess. To deal effectively with the doubts you should acknowledge their existence and confront them straight on, because a posture of defiant denial is self-defeating. Specifically, I believe that you should have an association, with a board that might include prominent social psychologists from other field. The first mission of the board would be to organize an effort to examine the replicability of priming results, following a protocol that avoids the questions that have been raised and guarantees credibility among colleagues outside the field.
The following is just an example of such a protocol:
* Assemble a group of five labs, where the leading investigators have an established reputation (tenure should perhaps be a requirement). Substantial labs with several students are the most desirable participants.
* Each lab selects a recent demonstration of a priming effect, which they consider robust and most likely to replicate.
* The board makes a public commitment to these five specific effects
* Set up a daisy chain of labs A-B-C-D-E-A, where each lab will replicate the study selected by its neighbor: B replicates A, C replicates B etc.
* Have the replicating lab send someone to see how subjects are run (hence the emphasis on recency – the experiments should be in the active repertoire of the original lab, so that additional subjects can be run with confidence that the same procedure is followed).
* Have the replicated lab send someone to vet the procedure of the replicating lab as it starts its work
* Run enough subjects to guarantee power (probably more than in the original study)
* Use technology (e.g. video) to ensure that every detail of the method is documented and can be copied by others.
* Pre-commit to publish the results, letting the chips fall where they may, and make all data available for analysis by others.
This is something you could do quickly, and relatively cheaply. The main costs are 10 trips, and funds to cover these costs would be easy to get (I have checked). You would have to be careful in selecting laboratories and results to maximize credibility, and every step of the procedure should be open and documented. The unusually high openness to scrutiny may be annoying and even offensive, but it is a small price to pay for the big prize of restored credibility.
Success (say, replication of four of the five positive priming results) would immediately rehabilitate the field. Importantly, success would also provide an effective challenge to the adequacy of outsiders’ replications. A publicly announced and open effort would be credible among colleagues at large, because it would show that you are sufficiently confident in your results to take a risk.
More ambiguous results would be painful, of course, but they would still protect the reputations of scholars who sincerely believe in their work – even if they are sometimes wrong.
The protocol I outlined is just an example of something you might do. The main point of my letter is that you should do something, and that you must do it collectively. No single individual will be able to overcome the doubts, but if you act as a group and avoid defensiveness you will be credible.
In response to Ed Yong’s article in Nature in which Kahneman’s letter is published, Norbert Schwarz, has written a response, saying “There is no empirical evidence that work in this area is more or less replicable than work in other areas.”
REFERENCE

Saturday, December 3, 2011

Sepotong Roti Manis dan Nikmat - Sebuah Kisah

Bob Butler kehilangan kedua kakinya pada tahun 1965 akibat ledakan ranjau di Vietnam. Ia kembali ke negerinya sebagai pahlawan perang. Dua puluh tahun kemudian dia sekali lagi membuktikan kepahlawanan yang murni berasal dari lubuk hatinya.
Butler sedang bekerja di garasi rumahnya di sebuah kota kecil di Arizona pada suatu Hari dalam musim panas ketika dia mendengar jeritan seorang wanita dari salah satu rumah tetangganya. Ia menggelindingkan kursi rodanya ke rumah ini, tetapi semak-semak yang tinggi di rumah itu tidak memungkinkan kursi rodanya mencapai pintu belakang. Maka veteran itu keluar dari kursinya Dan merangkak tanpa peduli debu Dan semak yang harus dilewatinya.

Friday, November 11, 2011

Matrix Mapping: the easiest and best way to map internal controls

Stop and check!

The most common format for documenting internal controls (i.e. format for "control matrices") takes far too long to write and produces huge documents of little practical use. It's so inefficient that people naturally cut corners, giving a distorted view of controls and risk. I should know; I made the wrong choice myself once. Never again!
If your company has documented its internal controls using some kind of matrices or has to do so in future it is well worth getting the right format in place. This is one of those details that makes a huge difference. If you already have matrices check them and, if they are the wrong style, plan to reformat them as soon as possible. If you have still to start them or have just started a project to write control matrices, stop, check, and restart your project using the right style of matrix. If you don't you will regret it later.

Wrong and right formats

The format most people think of first when asked to map internal controls to risks is the obvious one: a list of risks, with controls written against each risk to show the risk is covered. The layout is some variation on the one below, with other columns added for extra information and cross referencing:
No!
Risk/control objectiveControls
Risk AControls addressing risk A
Risk BControls addressing risk B
Risk CControls addressing risk C
Risk DControls addressing risk D
etcetc
At first glance this seems sensible and there is no obvious objection in principle. However, this is a disastrous choice. If the format your company uses, or plans to use, is like this then read on.
A vastly superior format is to list controls down the left hand column, and risks across the column headings, then mark off where controls address risks within a matrix of small cells, like this:
No!
Control Risk A Risk B Risk C Risk D etc    
Control 1 1 1
Control 2 1 1
Control 3 1 1
Control 4 1 1 1
etc
In this example, Risk A is covered by Control 3 only. Risk B is covered by Control 1 only. Risk C is covered by Controls 1, 2, and 4. And so on.
At first glance this seems unpromising. Surely there will be lots of wasted space? Won't the column headings be difficult to read? What if there are too many risks to fit across the page?
All these are minor issues whose impact can be minimised, and they are insignificant next to the hidden drawbacks of the more obvious approach. The next section looks in more detail at the advantages and disadvantages of each type.

Friday, November 4, 2011

Shocked by the possibility of centralized AI

















Two figures above is comparing Human Synapse activity with Internet activity. And the result shows surprising similarity....

At the first, I've not surprised with the figure...but when I began to continue tracking in my mind, I've found something ineterest that could't make me stop thinking about it. In fact I knew the similarity since a few years back. I've known it but never try to think it more.

Without any reason, I figured :" Yeah...it's possible if our brain neural network be the same as internet traffic visualization since neurons, or nerve cells, each have a pair of projections—the axon and the dendrite, which transmit and receive impulses, respectively. On the other hand the internet especially in P2P sharing have Client Servers and each have pair of projections - the suppliers and the consumers of resources. Yap, it was a suitable analogy...I thought.

But....suddenly, without any reason, I've a question in my mind....Is it possible if once time in the future of the world will have one centralized artificial intelligence ( i called it) that can fully control all the network ( all the brain)  using internet or other form of electronic device ( like immersed nano chip or internet network program which can penetrate and fully take control our mind, etc).

Nowadays the possibility of one mandatory artificial intelligence which can control the human brain increasing since the nano technology discovered. The application of nano technology influence in neuro science, biotechnology, information technology significantly. 

Imagining it, I can say my negative perception is more dominate my mind than positive perception...I knew it was not fair .... this happened to me because since I was young I have raised in Christianity Doctrine that said in the end of days there will appear deceivers that will use the immersed chip in human body to control us....

Later I decided not to use that doctrine again since I grew up in maturity and my reading experience.. so I prefered to compare this matter wisely...when I did it, I got one sentence to conclude my thought about it :

In a dynamic and uncertainty thing, there will always be a chance that a new thing can be exploited to have the positive impact or negative impact. And we are human become the decision maker to it.
So back to my spontaneous reaction to this matter, I must observe this matter with all the possibilities impact to us as a human being. And I got whatever the new thing arise before us, it is our decision as a human being to bring it to the positive thing for human kind or vice versa....

And I decide to believe that both of neuro science or information and communication technology progress/ improvement will bring the positive impact for humand kind....

Finally I decide not to fear about the negative impact from the possibbility emergence of centralized artificial inteligence that can control our mind.

Tuesday, October 25, 2011

15 Styles of Distorted Thinking



  • Filtering: You take the negative details and magnify them while filtering out all positive aspects of a situation.
  • Polarized Thinking: Things are black or white, good or bad. You have to be perfect or you're a failure. There is no middle ground.
  • Overgeneralization: You come to a general conclusion based on a single incident or piece of evidence. If something bad happens once you expect it to happen over and over again.
  • Mind Reading:  Without their saying so, you know what people are feeling and why they act the way they do. In particular, you are able to divine how people are feeling toward you.
  • Castastrophizing: You expect disaster. you notice or hear about a problem and start "what if's". What if tragedy strikes? What if it happens to you?"
  • Personalization: Thinking that everything people do or say is some kind of reaction to you. You also compare yourself to others, trying to determine who's smarter, better looking, etc.