Thursday, February 7, 2013

Belajar dari 'LEM'

Lem......ya lem atau perekat.....sesuatu yang sangat berkaitan dengan keseharian kita.....bahkan sangat penting.....hanya saja kita hampir-hampur tak sadar akan kegunaan kehadirannya...kecualiiii.....tentu saja saat kita membutuhkannya, kesannya pragmatis banget, ya! Tapi memang lem diciptakan sbg alat untuk membantu umat manusia dalam berkembang, sekarang bayangkan jika kita tak punya lem, bisa jadi tak ada surat rahasia, bisa jadi tak ada yang namanya sakuran air rumah tangga, bisa jadi tidak ada banyak mainan kecil seperti yang ada saat ini......sifatnya yang dirancang untuk bisa menyatukan serpihan-serpihan kecil sekalipun menjadi berdampak besar untuk keoraktisan hidup sehari-hari kita. Sifat dia yang likuid, merekatkan dan tak nampak secara kasat mata.........sungguh mencerminkan sesuatu yang tak nampak, seringkali tak drasakan kehadirannya namun berdampak pada kehidupan kita, merupakan sifat-sifat yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan kita dalam berorganisasi dan berteman. 

Belajar dari lem: 
- Dalam berorganisasi: 
1. Berwawasan kerjasama yang erat ketimbang bersaing tidak sehat 
2. Berkecenderungan kolaborasi 
3. Luwes dan lugas dalam satu unit atau antar unit kerja 
4. Mementingkan tujuan bersama ketimbang menonjolkan diri sendiri 
5. Bersifat mempersatukan daripada memecahbelah 

- Dalam berteman: 
1. Berkecenderungan mendahulukn teman daripada kepuasan diri semata 
2. Lebih ikhlas dalam berinteraksi 
3. Mementingkan hububgan jangka panjang dan berusaha menjaga persahabatan yang ada 
4. Cenderung menjaga suasana damai dan ketentraman bersama ketimbang memihak salah. satu pihak 
5. Kehadirannya dapat menjafi pemersatu kelompok 
Lem..... ya lem..... 

Shared with Memoires for Android http://market.android.com/details?id=net.nakvic.dromoris http://sites.google.com/site/drodiary/

Friday, February 1, 2013

Kompleksitas Kesuksesan dan Kebahagiaan

Anda seorang orang tua yang ingin dicintai anak-anak Anda. Karena itu, Anda meminta mereka untuk mencintai Anda. Mereka justru semakin menjauh.


Anda seorang yang sedang mencari cinta sejati. Karena itu, Anda menghabiskan waktu untuk perawatan kecantikan, berusaha menampilkan diri Anda yang terbaik dan sebisa mungkin menutupi kekurangan Anda. Anda ingin menunjukkan bahwa Anda lebih istimewa dibanding kandidat lainnya. Cinta sejati justru tidak pernah datang.

Anda seorang pemilik usaha yang ingin mencapai sukses setinggi-tingginya. Anda berusaha mencari segala cara untuk menurunkan biaya dan menaikkan harga. Dalam jangka pendek, cara tersebut kelihatan berhasil, namun perlahan-lahan pelanggan mulai meninggalkan produk-produk Anda.


Anda seorang pencari kebahagiaan. Anda berusaha menciptakan lingkungan yang bisa memberi Anda kesenangan terus menerus. Anda justru merasa bosan dan hampa.


Sementara itu, Anda melihat orang-orang yang kelihatannya tidak berupaya sekeras Anda justru berhasil menggapai apa yang Anda idam-idamkan.


Bila Anda (atau orang-orang yang Anda kenal) pernah mengalaminya, menurut John Kay, seorang ekonom terkemuka Inggris, hal itu adalah hasil dari prinsip obliquity. Kay berpendapat, hal-hal penting yang melibatkan partisipasi orang lain — seperti kekayaan berlimpah, cinta kasih, kebahagiaan — dan yang melibatkan sistem yang kompleks seperti kelestarian lingkungan hidup, lebih baik dicapai dengan cara-cara tidak langsung. Pencapaian yang dilakukan secara langsung, walau mungkin bisa memberikan sukses sesaat, namun dalam jangka panjang bisa menjadi bumerang.


Sepintas pendapat tersebut kedengaran kurang masuk akal. Bukankah orang-orang yang berusaha kaya akan berusaha lebih keras dibanding orang yang tidak melakukan apa-apa? Bukankah kerja keras sangat dihargai? Bukankah orang yang secara spesifik mencari pasangan hidup akan memiliki probabilitas lebih tinggi untuk mendapatkan pendamping hidup?


Menurut Kay, dalam batas-batas tersebut, jawabannya adalah “YA”. Orang-orang yang berusaha untuk kaya secara rata-rata pasti lebih kaya dari yang tidak berusaha. Dan demikian juga untuk hal-hal lainnya. Namun, bila Anda ingin benar-benar kaya, benar-benar sukses, benar-benar bahagia, Anda dianjurkan untuk tidak mengejar tujuan tersebut secara langsung. Tentu saja Anda tetap harus bekerja keras, namun kerja keras tersebut dilakukan demi alasan lain.


Lihat saja daftar orang-orang kaya versi Forbes atau Fortune. Bill Gates, yang selalu menempati ranking orang terkaya di dunia selama beberapa tahun terakhir, tidaklah menghabiskan waktu untuk menghitung penghasilannya setelah mendirikan Microsoft. Apa yang ada di pikirannya adalah membuat sistem operasi dan perangkat lunak komputer yang lebih baik dan mengejar mimpinya untuk melihat setiap orang memiliki satu komputer. Demikian juga partnernya, Paul Allen. Setelah menjadi super milyuner, kedua orang ini tetap tidak mendewakan uang. Gates dan Allen adalah penyumbang aktif untuk organisasi-organisasi sosial. Kegiatan-kegiatan filantropis Gates dan Allen benar-benar tulus dan keluar dari lubuk hati terdalam mereka, bukan sekedar untuk membangun public image yang bagus. Pierre Omidyar dan Jeff Skoll, mendirikan eBay bukan karena berharap menjadi milyuner suatu saat nanti. Mereka melakukannya karena percaya pada kekuatan pasar bebas yang direplikasi di dunia maya. Baik Omidyar atau pun Skoll sekarang lebih aktif dalam dunia filantropis dibanding mengurusi eBay.


Dan orang kedua terkaya di dunia? Warren Buffett, sang investor nomor satu di Amerika Serikat. Buffet sampai saat ini masih tinggal di rumahnya di Omaha yang sudah ditempati 50 tahun. Mobilnya juga masih mobil lama meski kekayaannya hanya bisa diimbangi oleh Gates. Buffett sendiri mengaku dia tidak tertarik dengan uangnya, tapi proses penciptaan nilai lewat perusahaan-perusahaan yang dibelinya. Sekitar 90% kekayaan pribadi Buffett disumbangkan untuk tujuan amal.


Berbeda dengan pandangan umum, orang-orang yang super kaya tidak memikirkan uang, uang, dan uang. Bagi mereka, uang justru merupakan hasil sampingan dari pengejaran mimpi mereka dengan gairah dan kepercayaan. (Untuk para wirausaha, kejarlah mimpi Anda, bukan uang.)


Dan siapa yang lebih berbahagia dan sukses menurut Anda: Bunda Theresa atau Michael Jackson? Dalai Lama atau Suharto? Negara paling bahagia sedunia? US? Prancis? Jepang? Australia? Italia? Bukan.. bukan.. Menurut World Values Surveys (WVS) yang dilakukan oleh University of Michigan, peringkat negara-negara paling bahagia tidak berkorelasi langsung dengan rata-rata pendapatan perkapita penduduknya. Memang di peringkat atas terdapat negara-negara kaya seperti Denmark dan Finlandia, tetapi negara-negara berkembang seperti Nigeria, Meksiko, Venezuela, El Salvador, dan Puerto Rico juga sering menempati posisi atas. Indonesia? Kita menduduki papan tengah dan masih lebih baik dari beberapa negara maju lainnya seperti Italia, Jepang, dan Korea Selatan. Yang menarik dari ranking ini adalah: negara-negara yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, tidak terlibat konflik bersenjata, dan tidak terlalu materialistis adalah negara-negara paling bahagia di dunia. Negara-negara maju yang aman dan memiliki tunjangan sosial yang baik (seperti Denmark dan Finlandia) juga memiliki peringkat yang tinggi. Sementara negara-negara maju yang menunjukkan kompetisi yang tinggi atau hedonis seperti Jepang tidak memiliki ranking yang terlalu baik. Paling parah adalah negara-negara yang masih dilanda konflik bersenjata di dalam negeri atau dengan negara lain seperti Irak atau Zimbabwe.


Prinsip obliquity ini masuk akal karena kita hidup di dunia yang digerakkan oleh sistem yang kebanyakan komponennya di luar kendali kita. Logika sederhana “Bila A lalu B” tidak laku di sini. Yang terjadi umumnya adalah: “Bila A, lalu B dan C; B mempengaruh C dan D; D mempengaruhi A, dst…” Belum lagi bila kita berhadapan dengan sesama manusia yang tingkah lakunya sukar diprediksi. Karena itu, pengejaran tujuan yang bersifat langsung kadang sulit diprediksi keberhasilannya.


Lalu apa yang harus dilakukan untuk mencapai hal-hal penting tersebut?


Kita jelas tidak bisa menemukan jawaban lengkap. John Kay juga tidak berani menawarkan jawaban. Tapi, hal-hal yang diajarkan oleh agama dan orang-orang bijak sejak ribuan tahun lalu mungkin bisa dijadikan titik awal (paling tidak, bila ajaran tersebut mampu bertahan ribuan tahun, pasti ada alasannya). Berdoa dan percaya pada Tuhan. Kenali dan jadilah diri sendiri. Bersikap jujur. Berilah sebelum meminta. Berilah cinta tanya syarat. Kerja keras. Tekun. Temukan tujuan hidupmu dan jalankan. Tidak mudah memang, tapi bisa jadi itu juga alasan mengapa sedikit dari kita yang bisa benar-benar mencapai hal-hal penting tersebut.

Friday, January 4, 2013

Kompleksitas Dan Kecerdasan (Sebuah Perenungan)


Dalam buku In Search of Excellence (Tom Peters & R.H. Waterman), ada secuil cerita menarik yang mereka dengar dari Gordon Siu. Siu menceritakan tentang eksperimen di mana beberapa ekor lebah dan beberapa ekor lalat ditempatkan di dalam sebuah botol. Botol tersebut lalu diletakkan horisontal (memanjang) dengan bagian pantatnya yang tertutup dihadapkan ke jendela yang terkena sinar matahari, sementara bagian leher botol yang terbuka membelakangi jendela.
Lebah-lebah, yang terkenal sebagai salah satu serangga tercerdas, mati-matian berusaha keluar dari botol dengan terbang menuju ke arah cahaya (jendela). Karena cerdas, mereka berusaha mencari jalur terdekat untuk pulang ke rumah. Karena itu, mereka bertekad terbang menuju ke arah jendela apa pun resikonya. Namun karena arah tersebut tertutup bagian belakang botol, usaha mereka berakhir tragis. Para lebah akan mencoba terus sampai mati kecapaian.
Sementara lalat, yang terkenal sebagai serangga bodoh dengan otak secuil, terbang kesana kemari tanpa tujuan yang jelas. Walau demikian, perlahan-lahan tapi pasti, satu per satu dari mereka berhasil menemukan jalan keluar melalui leher botol.
Apa artinya hasil eksperimen tersebut buat kita?
Kecerdasan dan ketekunan belaka ternyata bukanlah modal utama buat sukses, terutama bila kondisi berubah drastis. Tujuan kita boleh tetap, tetapi kita terkadang harus mengambil jalan memutar bila ingin sampai di tujuan. Lebah yang cerdas memang akan mencapai tujuan lebih cepat dibanding lalat bila tidak ada halangan, tetapi bila ada halangan menanti atau lingkungan berubah (terperangkap di dalam botol yang diletakkan membelakangi jendela), sikap keras kepala mereka akan berbuah bencana. Justru upaya coba-coba yang dilakukan lalat adalah strategi yang lebih tepat.
Kecerdasan dan keahlian sering juga membutakan kita dengan membuat kita melihat masalah melalui kaca mata kuda. Bila kita memegang palu, semua kelihatan seperti paku. Kita hanya bisa melihat satu arah saja tanpa mempertimbangkan kemungkinan lain, sementara untuk menghadapi perubahan, fleksibilitas lebih dibutuhkan.
Hal yang sama juga berlaku untuk penentuan strategi perusahaan dan rencana masa depan pribadi. Dalam konteks dunia yang berubah cepat ini, apakah strategi yang Anda jalankan mengikuti cara lebah yang keras kepala, atau lalat yang mencoba berbagai alternatif lain ketika menemui kegagalan?

Wednesday, January 2, 2013

The 2013 Verdict

Tahun baru......it's become an annualy habit said some people.....some people said "Hari gini masih ngerayain tahun baru!!!".......Dan kita masing-masing punya beragam cara, aktivitas utk menutup akhir tahun. Bagi saya ndak masalah kalau kita merayakan tahun baru, kedatangan suatu awal baru, hanya saja yang terpenting adalah kita sungguh mendapatkan manfaat positif dari aktivitas dalam menyambut tahun baru tersebut.
Nah, melalui perenungan akhir tahun 2012 lalu saya bertanya- tanya sendiri kenapa sich kita harus ada perayaan tahun baru?
Esensi yang saya dapatkan dari hasil perenungan tentang hal ini adalah kita butuh suatu awal yang mengesankan, kita butuh semangat yang diperlukan untuk mengisi periode satu tahun akan datang, kita terbiasa dengan kebiasaan mengawali dan mengakhiri dengan sesuatu yang mengesankan, dan di atas segalanya seperti yang Abraham Maslow katakan kebutuhan tertinggi manusia bukanlah materi belaka tapi apresiasi terhadap diri kita (Self Esteem), maksudnya untuk menghargai diri kita sendiri, menghadiahi diri sendiri untuk menjadi semangat mengisi tahun yang baru.
Jadi di sini yang terpenting apa sich makna perayaan itu sendiri bagi kita? Kalau aktivitas perayaan tahun baru semata-mata untuk menghabiskan waktu akhir tahun bersama keluarga, teman, ataupun rekan kerja dan kita sendiri hanya mendapatkan diri kitadi tanggal 1 Januari tahun baru hanya rasa kantuk berat, cape, dan lebih-lebih ada semacam perasaan kekosongan atau datar untuk menjalani tahun baru, menurut saya kita perlu instropeksi bagaimana cara kita menghabiskan waktu akhir tahun.
Betul, saya setuju bahwa periode satu tahun telah lalu dengan segala kepenatan, stress kerjaan, atau seribu alasan lainnya. Namun walaupun Abraham Maslow bilang kebutuhan tertinggi kita adalah self esteem, tentunya kita harus menempatkan arti penghargaan diri dalam arti positif. Maksudnya disini adalah ......"Kesinambungan pengembangan diri kita dalam mencapai potensi optimum kita dalam segala aspek kehidupan"..... itulah esensi dari perayaan tahun baru menurut saya yang dalam segala bentuknyaa jangan sampai hilang ketika kita menyambut tahun baru......So itulah yang saya dapatkan kemarin....Selamat mengisi dan menjalani tahun 2013 dengan segala keindahannya!!!

Friday, October 12, 2012

Infographic: Critical Thinking


Kahneman on the storm of doubts surrounding social priming research

Daniel Kahneman issued an open letter to researchers doing social priming research, which has become the subject of skepticism after some studies were found to be fabricated and others were not able to be independently replicated. His letter offers advice to scholars about how to address the situation: Find out the truth through extensive replication and announce it.
The text of the letter is below:
From: Daniel Kahneman
Sent: Wednesday, September 26, 2012 9:32 AM
Subject: A proposal to deal with questions about priming effects
Dear colleagues,
I write this letter to a collection of people who were described to me (mostly by John Bargh) as students of social priming. There were names on the list that I could not match to an email. Please pass it on to anyone else you think might be relevant.
As all of you know, of course, questions have been raised about the robustness of priming results. The storm of doubts is fed by several sources, including the recent exposure of fraudulent researchers, general concerns with replicability that affect many disciplines, multiple reported failures to replicate salient results in the priming literature, and the growing belief in the existence of a pervasive file drawer problem that undermines two methodological pillars of your field: the preference for conceptual over literal replication and the use of meta-analysis. Objective observers will point out that the problem could well be more severe in your field than in other branches of experimental psychology, because every priming study involves the invention of a new experimental situation.
For all these reasons, right or wrong, your field is now the poster child for doubts about the integrity of psychological research. Your problem is not with the few people who have actively challenged the validity of some priming results. It is with the much larger population of colleagues who in the past accepted your surprising results as facts when they were published. These people have now attached a question mark to the field, and it is your responsibility to remove it.
I am not a member of your community, and all I have personally at stake is that I recently wrote a book that emphasizes priming research as a new approach to the study of associative memory – the core of what dual-system theorists call System 1. Count me as a general believer. I also believe in a point that John Bargh made in his response to Cleeremans, that priming effects are subtle and that their design requires high-level skills. I am skeptical about replications by investigators new to priming research, who may not be attuned to the subtlety of the conditions under which priming effects are observed, or to the ease with which these effects can be undermined.
My reason for writing this letter is that I see a train wreck looming. I expect the first victims to be young people on the job market. Being associated with a controversial and suspicious field will put them at a severe disadvantage in the competition for positions. Because of the high visibility of the issue, you may already expect the coming crop of graduates to encounter problems. Another reason for writing is that I am old enough to remember two fields that went into a prolonged eclipse after similar outsider attacks on the replicability of findings: subliminal perception and dissonance reduction.
I believe that you should collectively do something about this mess. To deal effectively with the doubts you should acknowledge their existence and confront them straight on, because a posture of defiant denial is self-defeating. Specifically, I believe that you should have an association, with a board that might include prominent social psychologists from other field. The first mission of the board would be to organize an effort to examine the replicability of priming results, following a protocol that avoids the questions that have been raised and guarantees credibility among colleagues outside the field.
The following is just an example of such a protocol:
* Assemble a group of five labs, where the leading investigators have an established reputation (tenure should perhaps be a requirement). Substantial labs with several students are the most desirable participants.
* Each lab selects a recent demonstration of a priming effect, which they consider robust and most likely to replicate.
* The board makes a public commitment to these five specific effects
* Set up a daisy chain of labs A-B-C-D-E-A, where each lab will replicate the study selected by its neighbor: B replicates A, C replicates B etc.
* Have the replicating lab send someone to see how subjects are run (hence the emphasis on recency – the experiments should be in the active repertoire of the original lab, so that additional subjects can be run with confidence that the same procedure is followed).
* Have the replicated lab send someone to vet the procedure of the replicating lab as it starts its work
* Run enough subjects to guarantee power (probably more than in the original study)
* Use technology (e.g. video) to ensure that every detail of the method is documented and can be copied by others.
* Pre-commit to publish the results, letting the chips fall where they may, and make all data available for analysis by others.
This is something you could do quickly, and relatively cheaply. The main costs are 10 trips, and funds to cover these costs would be easy to get (I have checked). You would have to be careful in selecting laboratories and results to maximize credibility, and every step of the procedure should be open and documented. The unusually high openness to scrutiny may be annoying and even offensive, but it is a small price to pay for the big prize of restored credibility.
Success (say, replication of four of the five positive priming results) would immediately rehabilitate the field. Importantly, success would also provide an effective challenge to the adequacy of outsiders’ replications. A publicly announced and open effort would be credible among colleagues at large, because it would show that you are sufficiently confident in your results to take a risk.
More ambiguous results would be painful, of course, but they would still protect the reputations of scholars who sincerely believe in their work – even if they are sometimes wrong.
The protocol I outlined is just an example of something you might do. The main point of my letter is that you should do something, and that you must do it collectively. No single individual will be able to overcome the doubts, but if you act as a group and avoid defensiveness you will be credible.
In response to Ed Yong’s article in Nature in which Kahneman’s letter is published, Norbert Schwarz, has written a response, saying “There is no empirical evidence that work in this area is more or less replicable than work in other areas.”
REFERENCE